Merantau juga
dapat digunakan sebagai sarana diri untuk mensyukuri nikmat Allah SWT yang
selama ini kita terima. Terbiasa dengan nikmat yang melimpah membuat seseorang
lupa untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan. Apalagi jika seseorang
tinggal di kota besar yang penuh dengan kemewahan dan kemajuan teknologi yang
tinggi. Hidup terasa begitu mudah. Transportasi begitu mudah dengan berbagai
macamnya begitu pula saranan komunikasi yang begitu canggih melalui internet.
Belum lagi orang dimanja dengan ketersediaan yang melimpah berbagai macam
kebutuhan sehari hari. Cara mendapatkannya pun juga begitu mudah. Kondisi yang
mampan seperti ini terkadang membuat orang tidak mensyukuri nikmat yang diperolehnya.
Orang lebih mudah lalai ketika mendapat nikmat daripada ketika mendapat
musibah. Ketika ditimpa musibah atau bencana orang begitu mudah untuk ingat
kepada Allah SWT Tuhan sang pencipta alam.
Tidak ada
seorang pun yang mau bertempat tinggal di wilayah pelosok desa yang jauh dari
kota. Terlebih lagi bagi orang yang lahir dan besar didaerah perkotaan. Berasal
dari daerah yang penuh dengan gemerlap keindahan dunia kemudian berpindah
tempat ke daerah yang masih terbelakang membuat orang keterkagetan / shock baik secara budaya maupun dalam menjalani
kehidupannya sehari hari. Terbiasa dengan segala kemudahan kemudian berhadapan
dengan berbagai macam kesulitan bukanlah hal yang mudah dijalaninya. Dimanjakan
dengan layanan internet dan komunikasi yang canggih ketika di kota, sejenak
berubah menjadi sebuah tantangan. Transportasi yang susah atau bahkan terkadang
tidak ada transportasi sehingga terpaksa harus berjalan kaki, tidak ada
jaringan sinyal sebagai sarana komunikasi sehingga begitu susahnya untuk berkomunikasi
satu dengan yang lain, atau ketersediaan kebutuhan sehari hari yang sangat
terbatas baik dari sisi jenis maupun jumlahnya.
Kondisi
daerah lain yang lebih terbelakang membuat orang kemudian akan tersadar betapa
sebenarnya Nikmat Allah SWT yang selama ini diterima sebenarnya begitu besar.
Namun karena terbiasa dengan kemudahan membuat
orang terlena. Kondisi susah atau sulit yang kemudian diperolehnya
kemudian mengingatkannya untuk mensyukuri atas nikmat yang sebelumnya
diperoleh. Begitu banyak kisah nyata dalam kehidupan didunia ini yang dapat
digunakan sebagai contoh nyata. Dijawa kebutuhan air begitu mudah didapat
bahkan sebagian besar wilayahnya sampai begitu menyia nyiakan air dengan
membuangnya begitu saja. Tetapi jika kita kemudian merantau ke Kupang NTT
dimana disana air merupakan barang mahal. Sebagian besar orang dikupang untuk
mendapatkan akses air bersih terpaksa harus membeli dan mengeluarkan sebagian
hartanya. Bayangkan jika harga satu tangki ukuran 5000 liter dihargai dengan
harga Rp. 100.000,- dimana dalam satu bulan sebuah keluarga menghabiskan 4
tangki air maka dalam satu bulan saja satu keluarga harus menyisihkan
Rp.400.000,-. Itupun terkadang dalam pemanfaatannya harus dengan berhemat atau
tidak boros. Mandi secukupnya, mencuci secukupnya, begitu pula kebutuhan yang
lain. Bersyukurlah orang yang dirumahnya berlimpah dengan air bersih.
Begitu pula
dalam pemenuhan kebutuhan yang lain. Orang-orang di Jawa jika menginginkan aneka macam buah
buahan begitu mudah mendapatkannya sekalipun tidak dalam musim panen buah
tersebut. Harganya juga relatif begitu murah dan cara mendapatkanya juga mudah.
Bandingkan dengan daerah lain seperti di Indonesia Timur. Cuaca dan keadaan
tanah tidak cocok untuk bertanam buah buahan. Sehingga kebutuhan akan buah
harus didatangkan dari Jawa. Mendatangkan dari Jawa juga membutuhkan biaya yang
tidak sedikit. Itulah sebabnya harga buah menjadi begitu mahal. Sebagai
ilustrasi harga salak pondok di Jawa hanya Rp. 5000,- per kilo sementara di
Indonesia Timur untuk satu kilo salak pondoh dihargai dengan Rp. 30.000,-.
Lebih mahal 6 kali lipat dengan harga di Jawa. Harga satu kilo semangka di Jawa
berkisar antara Rp. 5.000,- sementara di Indonesia Timur dihargai per kilo
sebesar Rp.20.000,-. Empat kali lipat dengan harga di Jawa. Belum lagi seperti
harga daging ayam dimana di Jawa satu potong daging ayam utuh sudah disembelih
dan dibersihkan bulu dan kotorannya dihargai hanya Rp. 30.000,- sementara
ditempat lain harga ayam hidup saja Rp. 35.000,-. Itupun ayam tidak terlalu besar
sehingga dagingnya tidak terlalu banyak. Bersyukurlah seseorang yang tinggal di
daerah yang mudah dalam membeli kebuthan sehari hari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar