Pilih Bahasa

Senin, 18 Juni 2012

TIDAK JADI BERENANG, DAPAT UDANG DAN IKAN BAKAR


Buruk menurut sebagian manusia belum tentu buruk bagi sebagian manusia yang lain, dan baik menurut sebagian manusia belum tentu baik menurut sebagian manusia yang lain. Tetapi baik menurut Allah pasti baik bagi manusia sekalipun manusia membencinya. Dan buruk menurut Allah pasti buruk akibatnya bagi manusia sekalipun manusia menyukainya.

Hari jumat malam tanggal 8 Juni 2012 setelah isya’ seperti biasa tiap dua pekanan guru pegawai muslim SPP N Kupang mengadakan kajian agama. Waktu itu bertempat di rumah sdr. Widaryono, S.IP salah seorang pustakawan di sekolah kami. Agenda tiap agenda kajian agama berjalan dengan baik, dan setelah sesi istirahat dilanjutkan pembahasan dan serba serbi. Tercetuslah ide gagasan untuk mengadakan rihlah bersama di tambak Ikan Bipolo dan pantai Pariti. Pemilihan lokasi ini tidak berlangsung begitu saja, melainkan salah seorang dari kami yaitu pak drh. Zulham pernah sekeluarga rekreasi disana. Akhirnya disepakatilah pada hari Ahad, 10 Juni kita semua pegawai muslim SPP N Kupang beserta keluarga untuk berekreasi ke dua daerah tersebut. Selain itu juga sebagian besar kita sudah tidak sabar untuk berenang dan mandi di laut bebas untuk mencurahkan semua beban pikiran.

Pembagian tugas kami lakukan, mas dar (nama ngetrend widaryono) kebagian masak nasi. Abdul Azis bagian minuman, pak Akmal bagian perlengkapan, pak Subi bagian alat bakar dan kerupuk, pak Zul bagian snack ringan dan saya sendiri bagian masak sambal dan buah. Kita sengaja tidak membawa lauk karena nanti akan membeli ikan ditambak dan dibakar sendiri dipantai pariti. Kajian ditutup dan semua kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat.
Ahad pagi jam 8 lebih sedikit kami sudah berkumpul dan siap berangkat bersama dengan sepeda motornya masing-masing. Semua peralatan lengkap dibawa dan yang terpenting adalah baju ganti karena sebagian besar kita sudah tidak tahan untuk berenang di laut. Sepanjang perjalanan kami semua menikmati pemandangan alam dan keindahan alam yang sungguh sangat luar biasa. Subhanallah, betapa Maha besarnya Allah. Mampu menciptakan alam dengan keindahan yang sangat luar biasa hebatnya
Hampir satu jam perjalanan, tibalah kami di tambak ikan Bipolo. Kami berhenti sejenak sembari istirahat dan menikmati pemandangan. Sebagian dari kami mencari pemilik tambak untuk membeli ikan untuk dibakar sebagai makan siang kami. Aha, mungkin belum keberuntungan kami. Ikan baru mulai dipanen dan untuk membelinya kami harus menunggu sampai jam 12 siang. Wow, waktu yang lama bagi kami karena saat itu waktu menunjukkan pukul 10.30 WITA. Dengan sedikit kecewa kami semua tidak dapat mendapatkan ikan. Satu harapan untuk lauk makan siang kami adalah membeli ikan di nelayan pantai pariti. Perjalanan pun kami lanjutkan untuk menuju pantai Nenas di desa Pariti.
Syukur Alhamdulillah setelah 30 menit perjalanan sampailah kami di Tepi Pantai tempat nelayan biasa jual ikan hasil panenan. Tapi, lagi lagi belum beruntung, hanya kapal-kapal yang disandar yang kami temui. Kami pun pasrah dengan sedikit kecewa karena belum mendapatkan lauk untuk makan siang kami. Ada yang berujar “ yah, kita syukuri makan pakai sambal dan krupuk juga baik”. Sebagai obat kecewa, kita semua ingin meluapkan keinginan kami dari awal untuk segera berenang di Pantai lepas. Sepeda motor diparkir ditempat teduh dan berjalanlah kami menuju tepi pantai.
He he he , belum beruntung untuk yang ketiga kalinya, ternyata air tepi pantai disana banyak dan penuh dengan lumpur. Tidak mungkin digunakan untuk berenang. Kalaupun dipaksa, bukannya badan bersih yang diperoleh selepas berenang melainkan badan yang bau dan kotor yang diterima. Ya, sudahlah nampaknya belum rezeqi bagi kami, cukup dengan bekal yang dibawa apa adanya. Beruntunglah ada salah satu istri teman kami yaitu bu Wati ( istri pak Zul ) yang inisiatif membawa telur dan tahu sambal. Yah lumayan lah sebagai obat kecewa. Kami segera mencari tempat teduh dan menyiapkan segala hal yang kami butuhkan.
Ada sedikit kegembiraan ketika kami melihat sebuah kapal nelayan yang sedang mencari udang mulai menepi, kami hampiri dan syukur alhamdulillah ada 2 kg udang segar dan 2 ekor ikan yang diperoleh dan akhirnya kami membelinya. Siaplah kami untuk membakarnya rame-rame. Tapi, ups tidak ada diantara kami yang bawa korek api karena semua tidak ada yang merokok. Yah, gagal maning-gagal maning. Harapan kembali muncul ketika sekitar 50 meter dari tempat kami istirahat ada gumpalan asap membumbung. Nampak ada orang yang sedang membakar sampah. Berarti ada api disana. Akhirnya jadilah kita bakar-bakar ikan dan udang. Yah, sedikit mengobati obat kecewa karena tidak jadi berenang di Pantai. Padahal baju-baju ganti sudah disiapkan semuanya. Tetapi kondisi pantai yang berlumpur membuat niatan berenang kami terpaksa kami urungkan dan kami tunda dikesempatan yang lain.
Sedikit kami mulai berfikir, seandainya air pantai tadi jernih maka tidak ada udang yang bisa hidup baik disana. Memang kami bisa berenang dengan bebas, tepai konsekuensinya kami pun tidak dapat menikmati udang bakar khas pariti. Karen ternyata udang tidak bisa hidup dengan baik pada habitat yang jernih airnya. Begitu pula sebaliknya kami disana memang tidak jadi bisa berenang dipantai karena air keruh, tetapi kami cukup puas makan siang dengan ikan dan udang bakar yang lezat. Nampaknya udang jauh lebih cocok hidup pada daerah pantai yang keruh dan berlumpur. Subhanallah, ternyata setiap binatang memiliki habitat yang berbeda-beda.

Itulah hikmah perjalanan kami. Allah SWT menciptakan beraneka ragam alam dan lingkungan dengan jenis binatang yang berbeda beda pula. Bayangkan jika bumi ini gurun pasir semua pasti kita hanya akan mengenal unta saja. Jika semua bumi hanyalah hutan belantara, maka hanyak binatang buas seperti harimau dan singan yang kan kita temui. Jika semua pantai yang ada semuanya jernih maka tidak akan kita menemui daerah pantai yang penuh dengan udang udang segar. Inilah satu diantara rahasia keanekaragaman alam bumi ini, dengan adanya keanekaragaman lingkungan maka akan kita temui beraneka ragam pula binatang yang mampu bertahan hidup pada setiap habitat tersebut. Sebuah pelajaran penting bahwa semua yang Allah SWT ciptakan pasti ada maksud dan tujuannya dan pasti untuk kebaikan manusia. Terkadang kita menyesali suatu keadaan buruk yang ada pada wilayah lingkungan sekitar kita. Namun ternyata ada banyak kebaikan yang justru dapat kita peroleh disana hanya terkadang kita belum mengetahuinya.

Jangan menyesali setiap keadaan karena terkadang yang menurut manusia tidak baik tetapi justru baik menurut Allah bagi manusia. Pantai yang keruh dan lumpur memang tidak disukai sebagian besar manusia  karena tidak bisa digunakan untuk obyek wisata maupun untuk mandi dan berenang. Tetapi ternyata dibalik itu semua Allah menyediakan sebagian rizqinya bagi nelayan udang disekitarnya. Bahkan bagi pengunjung Allah menyediakan rizqi berupa kenikmatan untuk mengkonsumsi udang segar yang diperoleh petani. Semua yang terjadi ada kehendak Allah SWT, dan pasti kehendak Allah itu untuk kebaikan manusia semua.
Buruk menurut kita belum tentu buruk bagi orang lain, dan baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Tetapi semua yang Allah cintakan didunia ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk kebaikan manusia semata. Syukuri jika kita memperoleh kebaikan dan bersabar ketika kita memperoleh keburukan. Karena ternyata dibalik kesusahan dan kebahagiaan disana. Tidak jadi berenang tetapi mendapat udang bakar segar yang begitu nikmat. SUBHANALLAH