Buruk menurut sebagian manusia belum tentu buruk bagi sebagian manusia
yang lain, dan baik menurut sebagian manusia belum tentu baik menurut sebagian
manusia yang lain. Tetapi baik menurut Allah pasti baik bagi manusia sekalipun
manusia membencinya. Dan buruk menurut Allah pasti buruk akibatnya bagi manusia
sekalipun manusia menyukainya.
Hari
jumat malam tanggal 8 Juni 2012 setelah isya’ seperti biasa tiap dua pekanan
guru pegawai muslim SPP N Kupang mengadakan kajian agama. Waktu itu bertempat
di rumah sdr. Widaryono, S.IP salah seorang pustakawan di sekolah kami. Agenda
tiap agenda kajian agama berjalan dengan baik, dan setelah sesi istirahat
dilanjutkan pembahasan dan serba serbi. Tercetuslah ide gagasan untuk
mengadakan rihlah bersama di tambak Ikan Bipolo dan pantai Pariti. Pemilihan
lokasi ini tidak berlangsung begitu saja, melainkan salah seorang dari kami
yaitu pak drh. Zulham pernah sekeluarga rekreasi disana. Akhirnya disepakatilah
pada hari Ahad, 10 Juni kita semua pegawai muslim SPP N Kupang beserta keluarga
untuk berekreasi ke dua daerah tersebut. Selain itu juga sebagian besar kita
sudah tidak sabar untuk berenang dan mandi di laut bebas untuk mencurahkan
semua beban pikiran.
Pembagian
tugas kami lakukan, mas dar (nama ngetrend widaryono) kebagian masak nasi.
Abdul Azis bagian minuman, pak Akmal bagian perlengkapan, pak Subi bagian alat
bakar dan kerupuk, pak Zul bagian snack ringan dan saya sendiri bagian masak
sambal dan buah. Kita sengaja tidak membawa lauk karena nanti akan membeli ikan
ditambak dan dibakar sendiri dipantai pariti. Kajian ditutup dan semua kembali
ke rumah masing-masing untuk istirahat.
Ahad
pagi jam 8 lebih sedikit kami sudah berkumpul dan siap berangkat bersama dengan
sepeda motornya masing-masing. Semua peralatan lengkap dibawa dan yang
terpenting adalah baju ganti karena sebagian besar kita sudah tidak tahan untuk
berenang di laut. Sepanjang perjalanan kami semua menikmati pemandangan alam
dan keindahan alam yang sungguh sangat luar biasa. Subhanallah, betapa Maha
besarnya Allah. Mampu menciptakan alam dengan keindahan yang sangat luar biasa
hebatnya
Hampir
satu jam perjalanan, tibalah kami di tambak ikan Bipolo. Kami berhenti sejenak
sembari istirahat dan menikmati pemandangan. Sebagian dari kami mencari pemilik
tambak untuk membeli ikan untuk dibakar sebagai makan siang kami. Aha, mungkin
belum keberuntungan kami. Ikan baru mulai dipanen dan untuk membelinya kami
harus menunggu sampai jam 12 siang. Wow, waktu yang lama bagi kami karena saat
itu waktu menunjukkan pukul 10.30 WITA. Dengan sedikit kecewa kami semua tidak
dapat mendapatkan ikan. Satu harapan untuk lauk makan siang kami adalah membeli
ikan di nelayan pantai pariti. Perjalanan pun kami lanjutkan untuk menuju
pantai Nenas di desa Pariti.
Syukur
Alhamdulillah setelah 30 menit perjalanan sampailah kami di Tepi Pantai tempat
nelayan biasa jual ikan hasil panenan. Tapi, lagi lagi belum beruntung, hanya
kapal-kapal yang disandar yang kami temui. Kami pun pasrah dengan sedikit
kecewa karena belum mendapatkan lauk untuk makan siang kami. Ada yang berujar “
yah, kita syukuri makan pakai sambal dan krupuk juga baik”. Sebagai obat
kecewa, kita semua ingin meluapkan keinginan kami dari awal untuk segera
berenang di Pantai lepas. Sepeda motor diparkir ditempat teduh dan berjalanlah
kami menuju tepi pantai.
He
he he , belum beruntung untuk yang ketiga kalinya, ternyata air tepi pantai
disana banyak dan penuh dengan lumpur. Tidak mungkin digunakan untuk berenang.
Kalaupun dipaksa, bukannya badan bersih yang diperoleh selepas berenang
melainkan badan yang bau dan kotor yang diterima. Ya, sudahlah nampaknya belum
rezeqi bagi kami, cukup dengan bekal yang dibawa apa adanya. Beruntunglah ada
salah satu istri teman kami yaitu bu Wati ( istri pak Zul ) yang inisiatif
membawa telur dan tahu sambal. Yah lumayan lah sebagai obat kecewa. Kami segera
mencari tempat teduh dan menyiapkan segala hal yang kami butuhkan.
Ada
sedikit kegembiraan ketika kami melihat sebuah kapal nelayan yang sedang
mencari udang mulai menepi, kami hampiri dan syukur alhamdulillah ada 2 kg
udang segar dan 2 ekor ikan yang diperoleh dan akhirnya kami membelinya.
Siaplah kami untuk membakarnya rame-rame. Tapi, ups tidak ada diantara kami
yang bawa korek api karena semua tidak ada yang merokok. Yah, gagal
maning-gagal maning. Harapan kembali muncul ketika sekitar 50 meter dari tempat
kami istirahat ada gumpalan asap membumbung. Nampak ada orang yang sedang
membakar sampah. Berarti ada api disana. Akhirnya jadilah kita bakar-bakar ikan
dan udang. Yah, sedikit mengobati obat kecewa karena tidak jadi berenang di
Pantai. Padahal baju-baju ganti sudah disiapkan semuanya. Tetapi kondisi pantai
yang berlumpur membuat niatan berenang kami terpaksa kami urungkan dan kami
tunda dikesempatan yang lain.
Sedikit
kami mulai berfikir, seandainya air pantai tadi jernih maka tidak ada udang
yang bisa hidup baik disana. Memang kami bisa berenang dengan bebas, tepai
konsekuensinya kami pun tidak dapat menikmati udang bakar khas pariti. Karen
ternyata udang tidak bisa hidup dengan baik pada habitat yang jernih airnya.
Begitu pula sebaliknya kami disana memang tidak jadi bisa berenang dipantai
karena air keruh, tetapi kami cukup puas makan siang dengan ikan dan udang
bakar yang lezat. Nampaknya udang jauh lebih cocok hidup pada daerah pantai
yang keruh dan berlumpur. Subhanallah, ternyata setiap binatang memiliki
habitat yang berbeda-beda.
Itulah
hikmah perjalanan kami. Allah SWT menciptakan beraneka ragam alam dan
lingkungan dengan jenis binatang yang berbeda beda pula. Bayangkan jika bumi
ini gurun pasir semua pasti kita hanya akan mengenal unta saja. Jika semua bumi
hanyalah hutan belantara, maka hanyak binatang buas seperti harimau dan singan
yang kan kita temui. Jika semua pantai yang ada semuanya jernih maka tidak akan
kita menemui daerah pantai yang penuh dengan udang udang segar. Inilah satu
diantara rahasia keanekaragaman alam bumi ini, dengan adanya keanekaragaman
lingkungan maka akan kita temui beraneka ragam pula binatang yang mampu
bertahan hidup pada setiap habitat tersebut. Sebuah pelajaran penting bahwa
semua yang Allah SWT ciptakan pasti ada maksud dan tujuannya dan pasti untuk
kebaikan manusia. Terkadang kita menyesali suatu keadaan buruk yang ada pada
wilayah lingkungan sekitar kita. Namun ternyata ada banyak kebaikan yang justru
dapat kita peroleh disana hanya terkadang kita belum mengetahuinya.
Jangan
menyesali setiap keadaan karena terkadang yang menurut manusia tidak baik
tetapi justru baik menurut Allah bagi manusia. Pantai yang keruh dan lumpur
memang tidak disukai sebagian besar manusia
karena tidak bisa digunakan untuk obyek wisata maupun untuk mandi dan
berenang. Tetapi ternyata dibalik itu semua Allah menyediakan sebagian rizqinya
bagi nelayan udang disekitarnya. Bahkan bagi pengunjung Allah menyediakan rizqi
berupa kenikmatan untuk mengkonsumsi udang segar yang diperoleh petani. Semua
yang terjadi ada kehendak Allah SWT, dan pasti kehendak Allah itu untuk
kebaikan manusia semua.
Buruk
menurut kita belum tentu buruk bagi orang lain, dan baik menurut kita belum
tentu baik menurut orang lain. Tetapi semua yang Allah cintakan didunia ini
tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk kebaikan manusia semata. Syukuri jika
kita memperoleh kebaikan dan bersabar ketika kita memperoleh keburukan. Karena
ternyata dibalik kesusahan dan kebahagiaan disana. Tidak jadi berenang tetapi
mendapat udang bakar segar yang begitu nikmat. SUBHANALLAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar